Ternyata saya belum mampu menetralkan rasa kecewa saya terhadap kamu. Saya masih belum bisa bersikap wajar ke kamu seperti dulu. Seperti sebelum apa yang telah kamu perbuat kepada saya. Dan perasaan nyesek itu masih ada. Rasa kecewa saya masih ada. Apa yang telah terjadi benar-benar jadi special mark and notes buat saya.
Setelah kejadian itu ( kekecewaan seorang wanita terhadap pria). Saya mencoba untuk menyikapinya dari berbagai sudut padang. Kecewa, sakit hati, nyesek, merasa tidak dihargai, desperate, apapun itu semua saya rasakan. Kalau menuruti amarah ada banyak ide bodoh yang ingin saya lakukan. Tapi ada secercah titik kesadaran bahwa ini memang harus terjadi, saya harus melewati hal seperti ini, karena pasti ada hikmah dari semua yang terjadi kepada saya. Ada titik pereda yang meyakinkan saya bahwa ada pembelajaran, ada ilmu yang harus saya pelajari dari kejadian ini. Akhirnya bagaimana lagi, saya harus bisa melihat sisi positifnya. Daripada fokus dengan hal negatif yang membuat saya semakin terpuruk, hanya meyisakan kesedihan dan rasa benci yang selalu mempengaruhi pikiran saya. Kejadian ini, saya jadikan sebuah kontemplasi untuk mencari hikmah apa yang harus saya pahami. Pelajaran apa yang harus saya gali. It's never that simple, yeach it is.
Mungkin ada benarnya quotes ini;
Love can't make you stronger until love make you weak #ihatequotesTetapi memang dari kejadian itu saya menyadari, there are priceless lessons that I have to figure them out. Hal yang harus saya tegaskan kepada diri saya sendiri adalah ini terjadi bukan totally kesalahan dia, ini juga ada kesalahan saya. Pasti dia punya alasan yang make sense bagi dia sehingga dia melakukan ini kepada saya (karena saya selalu percaya bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik). Biarpun saya tidak pernah tahu apa itu. Saya pernah coba untuk tanya but I got nothing ya sudah skip saja. Hal lain yang harus saya sadari, ini memang sudah cara Allah untuk mengajari saya ilmu baru (karena setiap hal simple apapun yang terjadi dengan kita dan disekitar kita adalah ilmu), saya harus meliwati ini. Ketika saya bisa ikhlas maka akan lebih ringan untuk menyikapinya. Dan akan dibukakan kesadaran kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Dan yang pasti akan di hapuskan berbagai macam perasaan benci, marah, kesel, kecewa terhadap orang tersebut. Alhamdulillah, memang tidak seperti menjemur baju. Ketika dia basah taruh dibawah terik kemudian kering, sudah selesai urusan.Tapi setelah kurang lebih tiga bulan berjalan. Saya bisa dan lebih tegar ketika melihat profile picture dia di social media yang saya punya. Memang meskipun hanya melihat picturenya saja tetapi itu bisa mengingatkan atas apa yang telah dia kalukan kepada saya pasti akan menghadirkan perasaan negatif lagi. Tapi akhirnya, saya sudah bisa menghilangkan sedikit demi sedikit perasaan dan pikiran negatif saya terhadap dia. Singkat cerita saya akhirnya sudah bisa move on dan melihat dia isn't an issue anymore. Bahkan saya sudah meyakinkan diri saya, dia seperti teman-teman saya yang lain tidak ada feeling apapun kitika setiap kali saya melihat profile picture dia. Dan dia masih sempat comment di posting saya, dan sayapun membalasnya seperti kepada teman-teman yang lain ketika comment di postingan saya. Hanya sewajarnya dan untuk menghormati dia (masa yang lain di bales punya doi engga kan ga enakan juga kan..). Dan sejujurnya saya masih penasaran apa yang ada dipikiran dia sebenarnya. Saya juga ada keinginan untuk memperbaiki keadaan, setidaknya tidak totally lost contact atau act like we don't recognize each other tidak perlu face to face tapi komunikasi di social media lebih dari cukup bahwa saya bisa tetap baik dengan dia, setidaknya ada kelegaan tersendiri, tidak ada beban seperti ada yang harus dihindari, itu menurut simple saya (mungkin diapun juga memilki pikiran yang sama). Setelah sebuah penyelesaian di moment lebaran, akhirnya kita tidak ada private message atau calling sama sekali. Sejauh saling membalas comment di social media. Tepat pada moment lebaran lagi, yaitu Idul Adha, untuk pertama kalinya dia private message ke saya. Dan berawal dari situ, dia mulai feel free untuk rajin comment di status saya dan kirim priviate message. Kalau ditanya bagaimana untuk menyikapi ini, jujur saya tidak tahu harus bagaimana dalam artian ada sedikit rasa penasaran kenapa harus muncul lagi kita kan tidak ada urusan (dengan kata lainnya jangan mencari dan menimbulkan urusan yang baru), tapi demi kebaikan ya sudah ladeni saja, toh masih batas wajar. Ada satu pernyataan saya waktu itu " Saya lebih baik dipertemukan dengan orang lain daripada mengulang dengan orang yang pernah mengecewakan, karena untuk memberikan perasaan tulus seperti semula itu sulit, pasti ada tendensi rasa dendam dan rasa sakit hati. hanya Keihlasan yang mampu merubah itu". Tapi saya akui itu sulit dan sangat sulit. Memunculkan ketulusan yang benar-benar tulus tanpa ada tendensi apapun. Saya tidak tahu saya butuh berapa lama lagi untuk melihat ini semua benar- benar netral.
The last thing I wrote for my status " Sorry I pretend being nice. Sincerely - Me. It's not that simple".Saya tidak tahu apa respone dia menanggapi itu atau malah itu means nothing. Saya tidak benar-benar yakin kenapa harus menulis itu, tapi saya hanya ingin jujur, maaf saya tidak bisa ramah seperti dulu. Saya sadar mungkin saya tidak total dalam memaknai arti ikhlas yang saya maksud, tapi saya masih belum bisa. Saya bisa bersikap baik tapi saya tidak bisa lebih baik, atau bahkan saya tidak bisa sebaik dulu.
Biarpun niat dia bukan untuk mengharapkan hal lebih. Tapi saya masih belum bisa. Maaf.
Love is forgiving. Love is giving another chance, no matter what someone has ever said or done to you. #ihatequotesBut I really can't to do this. I do apologize to you.


